KE-II
KONSEPSI
DASAR
A.
Norma-Norma
Pembentuk Perundang-Undangan
Pembentukan peraturan perundang-undangan berfungsi sebagai
alat transformasi sosial yang efektif dalam mendorong proses berdemokrasi dan
pembentukan negara hukum yang berkeadilan. Sebagaimana kita ketahui bahwa
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan beserta peraturan pelaksanaan lainnya merupakan pedoman
dalam proses pembentukan perundang-undangan baik antara Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR) maupun Pemerintah terkait erat dalam menciptakan hukum dan
perundang-undangan yang berlaku efektif.
B.
Norma
Fundamental Negara
Norma
Fundamental Negara (Staatsfundamentalnorm
dalam bahasa Jerman) adalah kedudukan sebagai kaidah negara yang fundamental.
Teori tentang staatsfundamentalnorm ini dikembangkan oleh Hans Nawiasky,
seorang ahli hukum berkebangsaan Jerman.
1.
Perkembangan teori
Ø Teori
Kelsen-Nawiansky
Hans Nawiansky menyempurnakan teori
yang dikembangkan oleh gurunya, Hans Kelsen. Hans Kelsen mengembangkan teori Hirearki
Norma Hukum (stufentheorie
Kelsen) bahwa norma-norma
hukumj itu berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis dalam suatu hirearki tata
susunan, dimana suatu norma yang lebih rendah berlaku, bersumber dan berdasar
pada norma yang lebih tinggi, demikian seterusnya sampai pada suatu norma yang
tidak dapat ditelusuri lebih lanjut dan bersifat hipothesis dan fiktif, yaitu
Norma Dasar (Grundnorm).
Hans Nawinsky mengembangkan teori
tersebut dan membuat Tata Susunan Norma Hukum Negara (die Stufenordnung der
Rechtsnormen) dalam empat tingkatan:
·
Staatsfundamentalnorm (Norma Fundamental Negara) atau Grundnorm (menurut
teori Kelsen)
·
Staatsgrundgezets (Aturan Dasar/Pokok Negara)
·
Formell Gezets
(UU Formal)
·
Verordnung & Autonome Satzung (Aturan Pelaksana dan Aturan
Otonomi).
Menurut teori Kelsen-Nawiansky grundnorm
atau staatsfundamentalnorm adalah sesuatu yang abstrak, diasumsikan
(presupposed), tidak tertulis; ia tidak ditetapkan (gesetz), tetapi
diasumsikan, tidak termasuk tatanan hukum positif, berada di luar namun menjadi
dasar keberlakuan tertinggi bagi tatanan hukum positif, sifatnya meta-juristic.
Ø Pendapat
Notonagoro
Seorang ahli hukum Indonesia, Notonagoro berpendapat lain. Teori Notonagoro agak berbeda dengan
teori Kelsen-Nawiasky. Notonagoro menyatakan bahwa Grundnorm bisa juga tertulis.
Pancasila mengandung norma yang digali dari bumi Nusantara, semula tidak
tertulis tetapi kemudian ditulis.
2.
Perdebatan tentang amandemen
Pembukaan UUD 1945
Teori tentang staatsfundamentalnorm
menjadi hangat saat dilakukan amandemen UUD 1945 pada tahun 1999-2002.[1] Sebagian pihak ingin melakukan
amandemen Pembukaan UUD 1945 dengan berpendapat bahwa Pembukaan UUD 1945
bukanlah staatsfundamentalnorm (berdasarkan teori Kelsen-Nawiansky)
sedangkan sebagian lagi mengikuti pendapat Notonagoro bahwa Pembukaan UUD 1945
adalah staatsfundamentalnorm yang dituliskan sehingga tidak boleh
diubah, kecuali dengan membubarkan negara.
C.
Asas
Perundang-undangan
Asas adalah
dasar atau sesuatu yang dijadikan tumpuan berpikir, berpendapat dan bertindak. Asas-asas pembentuk peraturan perundang-undangan berati
dasar atau sesuatu yang dijadikan tumpuan dalam menyusun peraturan
perundang-undangan. Padanan kata asas adalah prinisip yang berarti kebenaran
yang menjadi pokok dasar dalam berpikir, berpendapat dan bertindak.
Dalam menyusun
peraturan perundang-undangan banyak para ahli yang mengemukakan pendapatnya.
Meskipun berbeda redaksi, pada dasarnya beragam pendapat itu mengarah pada
substansi yang sama. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat ahli,
kemudian penulis akan mengklasifikasikannya ke dalam dua bagian kelompok asas
utama (1) asas materil atau prinsip-prinsip substantif; dan (2) asas formal
atau prinsip-prinsip teknik pembentukan peraturan perundang-undangan.
a. Peraturan
perundang-undangan tidak berlaku surut (non retroaktif);
b. Peraturan
perundang-undangan yang dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi, mempunyai
kedudukan yang lebih tinggi pula;
c. Peraturan
perundang-undangan yang bersifat khusus menyampingkan peraturan
perundang-undangan yang bersifat umum (lex specialis derogat lex generalis);
d. Peraturan
perundang-undangan yang berlaku belakangan membatal-kan peraturan
perundang-undangan yang berlaku terdahulu (lex posteriori derogate lex
periori);
e. Peraturan
perundang-undangan tidak dapat di ganggu gugat;
f. Peraturan
perundang-undangan sebagai sarana untuk semaksimal mungkin dapat mencapai kesejahteraan
spiritual dan materil bagi masyarakat maupun individu, melalui pembaharuan atau
pelestarian (asas welvaarstaat).
Hampir sama
dengan pendapat ahli sebelumnya Amiroedin Sjarief, mengajukan lima asas,
sebagai berikut:
a.
Asas tingkatan hirarkhi;
b.
Peraturan perundang-undangan tidak dapat di ganggu gugat;
c.
Peraturan perundang-undangan yang bersifat khusus
menyam-pingkan UU yang bersifat umum (lex specialis derogate lex generalis);
d.
Peraturan perundang-undangan tidak berlaku surut;
e.
UU yang baru menyampingkan UU yang lama (lex
posteriori derogat lex periori).
Pendapat yang
lebih terperinci di kemukakan oleh I.C van der Vliesdi mana asas-asas
pembentukan peraturan perundang-undangan dapat dibagi menjadi dua, yaitu asas
formal dan asas materil.
a.
Asas tujuan yang jelas (beginsel van duetlijke
doelstelling);
b.
Asas organ / lembaga yang tepat (beginsel van het
juiste organ);
c.
Asas perlu pengaturan (het noodzakelijkheids
beginsel);
d.
Asas dapat dilaksanakan (het beginsel van
uitvoorbaarheid);
e.
Asas konsensus (het beginsel van consensus).
Sedangkan yang
masuk asas materiil adalah sebagai berkut:
a. Asas
terminologi dan sistimatika yang benar (het beginsel van duitdelijke
terminologie en duitdelijke systematiek),
b. Asas dapat
dikenali (het beginsel van de kenbaarheid);
c. Asas perlakuan
yang sama dalam hukum (het rechsgelijkheids beginsel);
d. Asas kepastian
hukum (het rechtszekerheidsbeginsel);
e. Asas
pelaksanaan hukum sesuai dengan keadaan individual (het beginsel van de
individuale rechtsbedeling).
Pendapat
terakhir dikemukakan oleh A. Hamid S. Attamimi sebagaimana dikutip oleh Maria
Farida, yang mengatakan bahwa pembentukan peraturan
perundang–undangan Indonesia yang patut akan mengikuti pedoman dan bimbingan
yang diberikan oleh cita negara hukum yang tidak lain adalah Pancasila, yang
oleh Attamimi diistilahkan sebagai bintang pemandu, prinsip negara hukum dan
konstitusionalisme, di mana sebuah negara menganut paham konstitusi.
Lebih lanjut
mengenai A. Hamid. S. Attamimi, mengatakan jika dihubungkan pembagian atas asas
formal dan materil, maka pembagiannya sebagai berikut :
a.
Asas–asas formal:
1. Asas tujuan
yang jelas.
2. Asas perlunya
pengaturan.
3. Asas organ /
lembaga yang tepat.
4. Asas materi
muatan yang tepat.
5. Asas dapat
dilaksanakan.
6. Asas dapat
dikenali.
b. Asas–asas
materiil:
1. Asas sesuai
dengan cita hukum Indonesia dan norma fundamental negara.
2. Asas sesuai
dengan hukum dasar negara.
3. Asas sesuai
dengan prinsip negara berdasarkan hukum.
4. Asas sesuai
dengan prinsip pemerintahan berdasarkan konstitusi.
Dalam Islam, prinsip-prinsip
perumusan peraturan perundang-undangan (qanun) juga telah lama diperkenalkan
oleh ahli Islam seperti Al Ghazali, Ibnu al Qayyim al Jauziyah, dan tokoh-tokoh
kontemporer lainnya. Beberapa prinsip itu antara lain:
a.
Pluralisme (al ta’addudiyyah); suatu prinsip
keanekaragaman, di mana setiap peraturan perundang-undangan yang disusun harus
menghargai, mengakomodasi keberagaman di suatu komunitas.
b.
Nasionalitas (muwathanah); spirit nasionalisme
yang melandasi bangunan bangsa Indonesia harus menjadi batu pijak dan poros
dalam perumusan kebijakan (meskipun ia berbasis pada syariat Islam).
c.
Penegakan hak asasi manusia (iqamat al huquq al
Insaniyah); menurut Imam Ghazali adalah bahwa perumusan kebijakan
dioreintasikan pada komitmen untuk melindungi hak-hak kemanusiaan. hak asasi
manusia juga diacu sebagai landasan perumusan materi kebijakan.
Terdapat enam
hak yang dikenal dalam disiplin Syariat Islam:
a. Hak untuk hidup
(hifdz al nafs aw al hayat)
b. Hak kebebasan
beragama (hifdz a din)
c. Hak kebebasan
berfikir (hifdz al aqli)
d. Hak properti
(hifdz al maal)
e. Hak untuk
mempertahankan nama baik (hifdz al irdh)
f. Hak untuk
memiliki garis keturunan (hifdz al nasl)
d.
Demokratis: secara prinsipil nilai-nilai Islam
berkesesuaian (compatibel) dengan nilai-nilai demokrasi. Beberapa di
antaranya:
a.
Egalitarianisme (al musawah)
b.
Kemerdekaan (al hurriyyah)
c.
Persaudaraan (al ukhuwwah)
d.
Keadilan (al adalah)
e.
Musyawarah (al syuro)
f.
Kemaslahatan (al mashlahah)
Ibnu al Qayyim
al Jauziyah menyebutkan bahwa syariat Islam itu dibangun untk mewujudkan
nilai-nilai universal seperti: al mashlahah (kemaslahatan), al adalah
(keadilan), al rahmat (kasih sayang), al hikmah (kebijaksanaan).
e.
Kesetaraan dan keadilan gender: setiap kebijakan disusun
tidak boleh membedakan setiap jenis kelamin. Ia harus mengakomodasi dan
mensetarakan gender.
Berbagai
pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas, pada dasarnya menunjuk pada
bagaimana sebuah peraturan perundang-undangan dibuat, baik dari segi
materi-materi yang harus dimuat dalam peraturan perundang-undangan, cara atau
teknik pembuatannya, akurasi organ pembentuk, dan lain-lain. Untuk memudahkan
pemahaman, di bawah ini akan diuraikan penjelasan asas-asas itu yang
dikelompokkan ke dalam 3 bagian asas yang harus dipenuhi. Uraian berikut ini sebagian
besar mengacu pada UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
perundang-undangan, dengan tambahan dan penjelasan yang dideduksi dari uraian
para ahli.
a. Asas-asas Hukum Umum
a.
Peraturan perundang-undangan tidak berlaku surut (non
retroaktif); peraturan perundang-undangan yang dibuat hanya berlaku pada
peristiwa-peristiwa hukum yang terjadi setelah peraturan perundang-undangan itu
lahir. Namun demikian, mengabaikan asas ini dimungkinkan terjadi dalam rangka
untuk memenuhi keadilan masyarakat. Sebagai contoh UU No. 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM, yang digunakan untuk mengadili peristiwa pelanggaran hak asasi
manusia yang terjadi di Timor Timur yang terjadi pada 1999.
b.
Asas kepatuhan pada hirarkhi (lex superior derogat lex
inferior); peraturan perundang-undangan yang ada di jenjang yang lebih
rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berada
pada jenjang lebih tinggi. Dan seterusnya sesuai dengan hirarkhi norma dan
peraturan perundang-undangan.
c.
Peraturan perundang-undangan yang bersifat khusus
menyampingkan peraturan perundang-undangan yang bersifat umum (lex specialis
derogat lex generalis); sebagai contoh UU No. 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh adalah lex specialis yang banyak mengesampingkan UU
No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
d.
Peraturan perundang-undangan yang berlaku belakangan
membatalkan peraturan perundang-undangan yang berlaku terdahulu (lex
posteriori derogate lex periori); dalam setiap peraturan perundang-undangan
biasanya terdapat klausul yang menegaskan keberlakuan peraturan
perundang-undangan tersebut dan menyatakan peraturan perundang-undangan sejenis
yang sebelumnya digunakan, kecuali terhadap pengaturan yang tidak bertentangan.
b.
Asas Material/ Prinsip-prinsip
Substantif
Secara umum,
prinsip-prinsip yang dapat dijadikan acuan dalam menilai substansi/ materi
muatan peraturan perundang-undangan adalah (1) nilai-nilai hak asasi manusia
(HAM) dan keadilan gender yang sudah tercantum di dalam konstitusi; jaminan
integritas hukum nasional; dan (3) peran negara versus masyarakat dalam negara
demokrasi.
Ketiga prinsip
dasar itu jika diturunkan secara lebih rinci adalah sebagai berikut:
a. Pengayoman; memberikan perlindungan dalam rangka
menciptakan ketenteraman masyarakat.
b. Kemanusiaan; memberikan perlindungan dan
penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat.
c. Kebangsaan; mencerminkan watak bangsa Indonesia
yang pluralistik.
d. Bhinneka
Tunggal Ika; memperhatikan
keragaman penduduk, agama, suku, golongan, kondisi khusus daerah, dan budaya.
e. Keadilan; memuat misi keadilan.
f. Kesamaan
kedudukan di muka hukum dan pemerintahan; memberikan akses dan kedudukan yang sama di hadapan
hukum.
g. Ketertiban dan
kepastian hukum; menciptakan
ketertiban melalui jaminan hukum.
h. Keseimbangan,
keseresaian, dan keselarasan; menyeimbangkan antara kepentingan individu dan
masyarakat, serta kepentingan bangsa dan negara.
i.
Keadilan dan kesetaraan gender; memuat substansi yang memberikan
keadilan dan kesetaraan gender dan mengandung pengaturan mengenai
tindakan-tindakan khusus bagi pemajuan dan pemenuhan hak perempuan.
j.
Antidiskriminasi; tidak mengandung muatan pembedaan (baik langsung maupun
tidak langsung), berdasarkan jenis kelamin, warna kulit, suku, agama, dan
identitas sosial lainnya.
k. Kejelasan
tujuan; mengandung
tujuan yang jelas yang hendak dicapai, akurasi pemecahan masalah.
l.
Ketepatan kelembagaan pembentuk Perda; jenis peraturan perundang-undangan harus
dibuat oleh lembaga yang memiliki kewenangan.
m. Kesesuaian
antara jenis dan materi muatan; jenis dan hirarki peraturan perundang-undangan memuat
substansi yang sesuai berdasarkan kewenangan yang telah diberikan oleh
undang-undang.
n. Dapat
dilaksanakan; memuat aturan
yang efektif secara filosofis, yuridis, dan sosiologis, sehingga dapat
dilaksanakan.
o. Kedayagunaan
dan kehasilgunaan; peraturan
perundang-undangan harus memuat aturan yang menjawab kebutuhan masyarakat,
memberikan daya guna dan hasil guna.
p. Kejelasan
rumusan; bahasa,
terminologi, sistematika, yang mudah dimengerti dan tidak multitafsir.
q. Rumusan yang
komprehensif; muatan Perda
harus dibuat secara holistik dan tidak parsial.
r.
Universal dan visioner; muatan peraturan perundang-undangan disusun untuk
menjawab persoalan umum dan menjangkau masa depan (futuristik), tidak hanya
dibuat untuk mengatasi suatu peristiwa tertentu.
s. Fair trial
(peradilan yang fair dan adil); muatan tentang pelaksanaan peraturan perundang-undangan
harus menyediakan mekanisme penegakan hukum yang fair.
t.
Membuka kemungkinan koreksi dan evaluasi; setiap peraturan perundang-undangan
harus memuat klausul yang memungkinkan peninjauan kembali bagi koreksi dan
evaluasi untuk perbaikan.
c. Asas formal/ Prinsip-prinsip Teknik Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan
Proses
pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik harus memenuhi asas atau
prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Aksessibilitas
dan keterbukaan; proses pembentukan peraturan
perundang-undangan yang meliputi perencanaan, persiapan, pembentukan, dan
pembahasan harus bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap orang.
b. Akuntabilitas; proses peraturan perundang-undangan
harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka yang meliputi: akurasi
perencanaan kerja, kinerja lembaga legislatif dan eksekutif, serta pembiayaan.
c. Partisipasi
publik; proses
pembentukan peraturan perundang-undangan membutuhkan kemampuan menangkap
aspirasi dan kekhawatiran publik; kecermatan memahami masalah secara akurat;
serta kapasitasnya menemukan titik-titik konsensus antara berbagai pengemban
kepentingan tentang suatu isu atau permasalahan, termasuk penyediaan mekanisme
partisipasi dan pengelolaan aspirasi.
d. Ketersediaan
kajian akademik; proses pembentukan peraturan
perundang-undangan harus didahului dengan kajian mendalam atas masalah yang
dihadapi atau hal-hal yang hendak diatur, yang biasanya dituangkan dalam bentuk
draft akademik.
f. e.Kekeluargaan;
proses pengambilan kesepakatan diupayakan dengan jalan musyawarah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih